Total Tayangan Halaman

Rabu, 12 Maret 2014

Kuliah musik, why not?


Musik. Semua orang suka musik. Setiap hari mereka dengar, bahkan kebutuhan pokok mungkin. Banyak orang memuja dan menyenangi musik. Tetapi, hanya sedikit yang memilih musik sebagai bidangnya. Banyak faktor dan alasan pasti. Mungkin karena mereka cacat nada. Istilah yang sama sekali ga keren, bukan? atau mungkin karena mereka tidak kreatif dan tidak punya jiwa seni. Well, mereka ga bersalah. 
Yang akan dibahas sekarang ini adalah pertanyaan-pertanyaan bodoh yang sering muncul dari orang-orang kuno diluar sana. Mari saya jawab satu per satu.

1. Kuliah musik nanti mau jadi apa?
Pertanyaan klasik dan cenderung kuno. Memang harus diakui kualitas musik di Indonesia memang masih sangat rendah. Musik yang ditayangkan di televisi juga cenderung untuk masyarakat menengah kebawah. Ya kita bicara fakta. Jadi intinya, orang yang bertanya seperti itu adalah orang yang refrensi musiknya masih seputar itu-itu saja. Mereka tidak tau betapa besar industri musik di luar sana. Di luar negeri, musik klasik bahkan menjadi kebutuhan pokok. Banyak ahli-ahli musik dari Indonesia yang bekerja diluar negeri, karena disana lebih dihargai pastinya. Di Indonesia pun, sebenarnya kita punya banyak peluang. Tergantung seberapa profesionalitas kita. Kalo ga pinter-pinter banget, ya bisa lah jadi guru musik buat anak-anak, pegawai mungkin di toko-toko musik. Kalo kalian pinter di teori-teori musik, bisa juga jadi guru, dosen, penulis buku, kritikus, pengamat musik. Kalo minat kalian lebih ke main instrumen, bisa juga kalian bener-bener fokus di mayor, lanjut abroad dan jadi player aktif disana. Kalo minat kalian lebih ke bikin lagu, aransemen, yang hobby ngcover, kalian bisa terjun ke musik industri, bikin aja lagu-lagu simple yang cuma I,IV,V akornya. Biasanya para 'alay' Indonesia suka tuhh. wkwk. Terus juga bisa jadi penata suara, bikin jingle buat iklan/brand sebuah produk. Buat ngisi waktu juga kalian bisa ngband, dan karena kalian anak musik, bandnya juga berkelas, ga kampungan. Sebut saja Addie MS, Erwin Gutawa, Ananda Sukarlan, Ahmad Dhani, Oni Krisnerwinto, Dian HP, Dwiki Dharmawan, dan masih banyak lagi. Mereka adalah musisi-musisi hebat yang mungkin juga pernah mendapat pertanyaan yang sama :p hahaha.

2. Kalo sekolah musik berarti tiap hari cuma nyanyi aja?
Jujur ya jujurr itu pertanyaan yang cenderung menyepelekan menurut saya. Jadi, kita punya instrumen mayor. Yang kita pelajari secara khusus adalah instrumen mayor kita. Seperti saya, piano. Tapi selain itu bidang-bidang musik yang lain juga dipelajari. Seperti Solfegio untuk melatih pendengaran dan ketajaman terhadap nada. Teori Musik, mempelajari hal-hal apa saja yang tertulis dalam partitur, termasuk cara memainkannya. Sejarah musik, mempelajari dan memperluas pengetahuan kita dari musik jaman barok, sampai musik modern bahkan yang berkembang di masyarakat saat ini. DT Pentas, mempelajari tentang tata panggung, tata suara, audio recording, dll. Ilmu harmoni, kita diajarkan untuk mengaransemen ulang sebuah lagu dari teori-teori harmoni dasar. Orkestrasi, kita belajar untuk menyusun/ menulis ulang dari part piano ke formasi orkestra. Orkestra, disini kita diajarkan untuk memainkan musik secara bersama-sama dengan instrumen lain, dipimpin oleh seorang conductor. Ilmu bentuk analisa (IBA), belajar menganalisa sebuah lagu. Lagu ini terdiri berapa bagian, berapa kali modulasi, ganti sukat, dll. 

Itu sih pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul :) sekarang kalian tau, bahwa kuliah di musik sama sekali bukan hal yang sepele. Lulusan musik dipastikan mampu bersaing dengan lulusan jurusan yang lain. Kesuksesan tidak tergantung pada jurusan kuliah yang dipilih, tapi tergantung diri kita sendiri, bagaimana memanfaatkan ilmu yang didapat pada masa kuliah. Kalo boleh saran, kalian yang belum pernah memainkan instrumen, cobalah belajar. Maka cepat atau lambat kalian akan tau. Pelajarilah musik selama kalian hidup, karena cacat nada itu sama sekali ga keren :p 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar